Kewajiban Memasang Tanda Batas Pada Suatu Bidang Tanah Dalam Hukum Islam


Dalam sebuah Hadits dijelaskan Bahwa Nabi SAW bersabda:

Siapa saja membuat suatu batas pada suatu tanah (mati), maka tanah itu menjadi miliknya (HR Ahmad Abu Dawud).

Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Umar bin Khaththab pernah berkata, “orang yang membuat batas pada tanah (mukhtajir) tak berhak lagi atas tanah itu setelah tiga tahun ditelantarkan”.

Keterangan Khalifah Umar bin Khaththab ini kemudian mejadi dasar untuk menarik tanah pertanian milik Bilal bin al-Harits al-Muzni yang ditelantarkan tiga tahun. Kemudian hal ini menjadi ijma’ sahabat Nabi SAW.

Dari uraian diatas dapat diambil inti sari sebagai berikut:

  1. Seseorang yang memiliki suatu bidang tanah wajib memasang batas pada bidang tanah yang dimilikinya.
  2. Tanah yang telah dipasang tanda batas tersebut wajib diolah sendiri.
  3. Apabila dalam tiga tahun tidak diolah atau ditelantarkan, maka pemilik tanah dapat kehilangan hak atas tanahnya.
  4. Hilangnya hak atas tanah oleh seseorang karena menelantarkan tanahnya, menjadi milik negara. Sehingga pengaturan mengenai hal ini ditentukan negara dengan berdasar pada Syari’at Islam.

Sumber: Al-Nabhani, an-Nizham al-Iqatishadi fi al-Islam Juz II, (Beirut: Darul Ummah), 2004, hal. 241.

Tentang Dr. (Candt.) Jamaluddin Mahasari, S.ST, M.H.

Jangan merasa hidup jika belum memberi arti dan manfaat untuk orang lain... Jangan merasa hebat jika belum menjadikan dirinya manfaat untuk kebanyakan orang...
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Pertanahan Syariah Islam dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s