Tulisan Menarik Bagi Yang Ingin Mengetahu tentang Syi’ah (Wajib Baca) …!!!


Menyiasati Bahaya Syi’ah di Masyarakat Sunni Atau Warga Nahdliyin

Oleh KH. Abdul Hamid Baidlowi

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Wahdah Lasem Rembang Jawa Tengah

Para peserta halaqoh yang saya hormati, upaya baja kelompok Syi’ah untuk memecah belah umat Islam, dan menjauhkan Islam dari ajaran-ajaran yang benar dengan mengganti ide-ide keji yang telah direncanakan dan ditata rapi masih terus dilakukan sampai akhir abad ini. Tak luput dari Nahdlatul Ulama yang Ahlussunnah wal Jamaah, berusaha dirobek-robek aqidah keimanannya dengan berbagai cara.

Sementara, hanya sedikit dari kita yang menyadarinya. Dan lebih sedikit lagi dari kita yang dengan nyata melakukan upaya penanggulangannya.

Untuk itu pada kesempatan ini saya sampaikan salut dan bangga atas kejelian dan keberanian IPNU Cabang Jombang dalam upaya menyelamatkan ajaran Islam dari racun-racun ajaran Syi’ah. Semoga langkah IPNU Jombang ini mampu jadi teladan dalam memerangi ajaran Syi’ah.

Untuk itulah dalam kesempatan ini saya Insya Allah akan menyampaikan pokok-pokok  masalah yang berkaitan dengan bahanya ajaran-ajaran Syi’ah yang sesat dan menyesatkan, upaya-upaya yang telah mereka lakukan untuk merobek-robek aqidah keimanan Jamaah Nahdlatul Ulama.

Khumaini mengatakan “Sesungguhnya Al-Imam mempunyai kedudukan yang mulia dan derajat yang agung dan kekuasaan yang alamiah di mana semua unsur alam tunduk pada imam dan telah menjadi ketetapan kami, bahwa imam-imam kami itu mempunyai kedudukan pangkat yang tiada dapat dicapai oleh malaikat yang dekat dengan Allah maupun utusan Allah” (Al Hukumatul Islamiyah halaman 52).

Di sini kembali Khumaini menghina Rasulullah SAW. dengan meletakkan derajat Nabi di bawah imam-imam Syi’ah maupun derajat  para malaikat yang dekat dengan Allah SWT. Dan paling tinggi Khumaini meletakkan derajat Nabi SAW. di urutan yang ke empat belas. Sedangkan Arswendo Atmowiloto yang meletakkan Nabi Muhammad SAW. Pada urutan ke sebelas tokoh-tokoh  populer dunia itu saja mengakibatkan tabloitnya dibredel. Apalagi kitab-kitab Khumaini dan tokoh-tokoh Syi’ah lainnya yang sudah jelas menghina Nabi SAW. Oleh karena itu saya menghimbau pemerintah melalui Menteri Agama supaya dengan tegas melarang kitab-kitab Syi’ah yang menyesatkan itu beredar di Indonesia.

I. MUQODDIMAH

Pada awal makalah saya ini, marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan segenap rahmat dan karunia-Nya  kepada kita. Shalawat Salam semoga tetap tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Yang membawa petunjuk dan rahmat bagi seluruh ummat manusia. Semoga shalawat dan salam juga terlimpahkan kepada para keluarga, shahabat beliau yang suci dan berbakti.

Peserta halaqoh yang saya hormati, sudah kita pahami bersama bahwa sejak awal perkembangan-nya Islam mendapat reaksi keras dari pihak-pihak yang dengki karenanya. Diawali dari reaksi kedengkian kaum kafirin dan musyrikin terutama kaum Yahudi yang menetap di dataran Arab, diteruskan kaum Majusi. Tujuan reaksi mereka adalah untuk membendung arus perluasan ajaran Islam. Meskipun kenyataan menunjukkan bahwa segala upaya mereka mengalami kegagalan, mereka tak pernah putus semangat untuk mewujudkan sikap dengkinya kepada Islam.

Adalah Abdullah bin Saba’ seorang keturunan Yahudi beserta kelompoknya yang pertama kali mengubah taktik dan siasat dengan berpura-pura memeluk Islam tetapi hatinya sangat membenci dan ingkar terhadap kebenaran. Mereka menggunakan istilah-istilah Islam sebagai kedok untuk kepentingan-kepetingan tertentu. Dengan demikian mereka tidak kesulitan dalam usaha menjerumuskan putra-putri Islam, terutama mereka yang masih dangkal pengetahuannya tentang aqidah Islam dan ajaran-ajarannya yang murni dan benar.

Mereka memproklamirkan diri dengan membentuk golongan tersendiri di dalam tubuh kaum muslimin dengan maksud menciptakan suasana disintegrasi dengan memasukkan kebatilan-kebatilan dalam ajaran agama Islam. Mereka menanamkan diri sebagai kelompok Syi’ah yang memihak kepada Ali bin Abi Thalib untuk sekedar dijadikan tameng pelindung kebusukannya. Padahal Ali sendiri tidak pernah memberi restu dan dukungan terhadap tingkah mereka. Bahkan saat menjadi Khalifah, beliau sangat mengecam dan mengancam tingkah laku tersebut.

Para peserta halaqoh yang saya hormati, upaya baja kelompok Syi’ah untuk memecah belah umat Islam, dan menjauhkan Islam dari ajaran-ajaran yang benar dengan mengganti ide-ide keji yang telah direncanakan dan ditata rapi masih terus dilakukan sampai akhir abad ini. Tak luput dari Nahdlatul Ulama yang Ahlussunnah wal Jamaah, berusaha dirobek-robek aqidah keimanannya dengan berbagai cara. Sementara, hanya sedikit dari kita yang menyadarinya. Dan lebih sedikit lagi dari kita yang dengan nyata melakukan upaya penanggulangannya. Untuk itu pada kesempatan ini saya sampaikan salut dan bangga atas kejelian dan keberanian IPNU Cabang Jombang dalam upaya menyelamatkan ajaran Islam dari racun-racun ajaran Syi’ah. Semoga langkah IPNU Jombang ini mampu jadi teladan dalam memerangi ajaran Syi’ah.

Untuk itulah dalam kesempatan ini saya Insya Allah akan menyampaikan pokok-pokok  masalah yang berkaitan dengan bahanya ajaran-ajaran Syi’ah yang sesat dan menyesatkan, upaya-upaya yang telah mereka lakukan untuk merobek-robek aqidah keimanan Jamaah Nahdlatul Ulama di penghujung abad ini sekaligus secara implicit Insya Allah saya sisipkan siasat untuk menghadapi bahaya Syi’ah. Semoga Allah SWT. Memberikan kekuatan kepada saya untuk semua.

II.BAHAYA SYI’AH I

Keyakinan Syi’ah dan Pernyataan Mereka Tentang Kekafiran Istri-istri Nabi Muhammad SAW dan Para Shahabatnya.

Baik, saya nukilkan untuk para peserta halaqoh pernyataan sebagian tokoh Syi’ah dari kitab–kitab induk mereka, sambil memohon ampun kehadirat Allah Azza wajalla sekedar untuk maksud memberikan bukti untuk kesesatan dan kedustaan golongan Syi’ah.

Al-Majlisi dalam kitabnya Hayatul Qulub  juz dua, halaman 700 cetakan Teheran, mengatakan “Sungguh al-’Iayyasy dengan sanad yang muktabar dari Asshodiq as. Bahwa Aisyah dan Hafsoh (istri-istri Nabi) kedua dilaknat Allah, begitu pula kedua ayahnya, karena kedua wanita tersebut telah membunuh Nabi Muhammad saw. dengan racun yang diminumkan beliau.

Muhammad Baqir Al-Majlisi dalam kitabnya Haqqul Yaqin mengatakan, “kepercayaan kami tentang tabarru’ (lepas diri) adalah bahwa kami berlepas diri dari empat berhala: Abu Bakar, Umar, Ustman, Muawwiyah, serta empat wanita yaitu Aisyah, Hafsoh, Hindun, Ummu Hakam, serta semua pengikut dan golongan mereka. Mereka adalah makhluk Allah yang paling jahat di atas permukakan bumi. Sesungguhnya tidak sempurna iman seseorang terhadap Allah kecuali ia melepaskan diri dari musuh-musuh-Nya.

Al-Kulaini dalam kitabnya Arroudhoh Minal Kaafi juz 8, halaman 245, mengatakan “para shahabat setelah Nabi wafat kesemuanya murtad kecuali tiga orang yaitu Al-Miqdad Ibnul Aswad, Abu Dzar    Al-Ghifari dan Salman Al-Farisi”.

Ahli hadits golongan Syi’ah Husain bin Abdus Shomad Al-Amini dalam kitabnya Al-Ahya ila Wusulil Ahbar  halaman 164 cetakan Qum Iran, mengatakan “kami mendekatkan diri kepada Allah dan Rasulnya dengan cara membenci dan mencaci para shahabat-shahabat Nabi”.

Bahkan golongan Syi’ah mengkafirkan siapapun yang tidak se-ide dengan mereka dan yang tidak membenarkan kepercayaan mereka serta siapapun yang tidak tunduk kepada mereka walaupun mereka sujud sampai patah batang lehernya. Demikian keterangan Ibnu Babawayh dalam kitab Al-Khisol juz 1, halaman 41 dan Al-Kaafi juz 1, halaman 437.

Al-Kulaini dalam kitabnya Al Kaafi juz 1 halaman 181-187, mengatakan bahwa barang siapa mengingkari imam-imam Syi’ah (yang dua belas) berarti mengingkari Allah SWT dan Rasul-Nya.

Demikian kepercayaan golongan Syi’ah sejak awal tumbuhnya yang dipelopori Abdullah bin Saba’ hingga kini yaitu suatu kepercayaan dan keyakinan yang sudah diatur, diolah, dimasak, digodog oleh golongan Yahudi. Kemudian keyakinan itudijadikan agama oleh golongan Syi’ah, suatu agama yang penuh dengan caci maki. Itupun mereka belum puas. Mereka dengan gila dan membabi buta mengkafirkan dan memurtadkan istri-istri Nabi SAW dan hampir seluruh shahabat Nabi. Kesesatan golongan Syi’ah lebih tidak terkendali lagi dengan mengatakan bahwa umat Islam yang cinta kepada para shahabat Nabi kafir hukumnya.

Peserta halaqoh yang terhormat, demikianlah sikap dan perilaku golongan Syi’ah yang sadis terhadap istri-istri Nabi dan para shahabatnya. Mereka sudah tidak mempedulikan nash-nash Al-Quran, dan tidak menghiraukan sunnah Nabi SAW. Mereka mencoba menghancurkan agama Islam dengan menghancurkan generasi pertama setelah Nabi, bahkan berkeinginan memporak-porandakan Islam secara total. Mereka berselimut kebatilan, kebohongan dan kedustaan bukan dengan kebenaran, kejujuran dan keadilan.

Jika kita mau berfikir bahwa tiga shahabat Nabi yang tidak murtad yang sebagaimana tokoh mereka, sungguh ini merupakan tuduhan yang palsu dan sekaligus penghinaan kepada Nabi SAW. Bagaimana mereka tidak menghina padahal selama kurang lebih dua pulah tiga tahun Nabi berdakwah dan berjuang, maha guru manakah yang mengungguli Nabi. Sungguh kalimat-kalimat kufur telah berhamburan dari mulut mereka.

Wal ‘Iyadzu billah…….. !

Sekarang giliran saya sampaikan penghinaan dan tuduhan palsu Khumaini (tokoh Iran yang menjadi kebanggaan Gus-Dur) terhadap Nabi SAW. Para shahabat Nabi dan Al-Quran. Untuk lebih jelasnya Insya Allah akan saya sampaikan kepada peserta halaqoh, warga NU dan kaum muslimin pada umumnya kepercayaan Khumaini terhadap hal tersebut di atas.

Khumaini dalam kitab Kasful Asror  juz 4, halaman 114, mengatakan  “Himmah para shahabat Nabi SAW tiada lain kecuali dunia yang mereka cari dan kekuasaan yang menjadi ambisi mereka, bukan Islam dan Al-Quran tujuan mereka. Merekalah yang menjadikan Al-Quran semata-mata sebagai alat buruk mereka. Mereka dengan mudah membuang dan mengubah ayat-ayat Al-Quran kemudian menghapus dari pandangan manusia untuk selama-lamanya. Sehingga kehinaan Al-Quran dan kaum muslimin berkepanjangan sampai hari kiamat. Tuduhan perubahan kitab Taurat dan Injil kepada orang Yahudi dan Kristen sesungguhnya menjadi ketetapan atas mereka”. Demikianlah Khumaini dengan lantang mengatakan kepercayaanya bahwa shahabat itu adalah jahat dan durhaka, bertujuan hanya mencari dunia serta rakus lagi pula haus kekuasaan, mereka mengubah Al-Quran dan membuang ayat-ayatnya yang mengakibatkan hilangnya Al-Quran yang asli dari pandangan manusia. Bahwa Khumaini dengan tegas membela orang Yahudi dan Nasrani dengan mengatakan bukan kitab Taurat dan Injil yang diubah justru Al-Quran yang telah diubah oleh shahabat Nabi.

Peserta halaqoh yang terhormat, adakah sesuatu keraguan bahwa apa yang dikatakan Khumaini itu adalah kesesatan dan kekafiran yang nyata. Dan orang macam Khumaini inilah yang menjadi idola Gus-Dur tanpa malu memberikan gelar kepada Khumaini waliyullah terbesar abad ini. Padahal Allah SWT sebagaimana difirmankan di dalam Al-Quran sebagai berikut:

Artinya: “Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah mereka adalah orang-orang yang tidak takut dalam memperjuangkan dalam membela agama Allah SWT. Dan mereka adalah orang-orang yang tidak sedih dihadapan Allah SWT. (siapa) yaitu orang-orang yang beriman dengan sempurna dan bertaqwa kepada Allah SWT.”

Ketika terjadi dialog di Genggong, Gus-Dur ditanya oleh K.H. Bashori Alwi, “Apa alasan Gus-Dur mengatakan Khumaini waliyullah terbesar abad ini?  “Gus Dur mengelak dan tidak mengakui serta mengatakan itu salah kutip wartawan (Gus-Dur mengelak rupa-rupanya dalam melaksanakan ajaran taqiyah dari Syi’ah). Kemudian K.H. Bashori Alwi mengejar dengan bantahan, “Itu bukan masalah salah kutip wartawan tetapi saya mendengar langsung dari Gus-Dur”. Dalam keadaan terjepit Gus-Dur terpaksa menjawab, “yang saya maksudkan Khumaini waliyullah terbesar abad ini adalah Khumaini melawan kedloliman Syah Iran.” Jadi pengertian Gus-Dur mengenai waliyullah bertentangan dengan penjelasan Allah SWT. Dalam firman-Nya sebagaimana tersebut di atas. Dengan demikian Gus-Dur dikhawatirkan terlibat dengan (mengadakan, red nm) sarekat-Nya Allah SWT. Dan yang sependapat dengan Gus-Dur dalam hal tersebut dikhawatirkan menjadi orang musyrik khofi (samar).

Apa yang mendorong Gus-Dur memberi gelar seperti itu? Bukankah itu berarti Gus-Dur telah mengembangkan Syi’ah dengan melalui figur Khumaini yang keyakinannya sesat. Bukan dengan pemberian gelar tersebut agar maksud tersembunyi agar warga NU dan umat Islam mencintai Khumaini yang kemudian diharapkan mereka tersesat masuk ke dalam Syi’ah. Lingkaran setan mana yang telah menjerumuskan Gus-Dur sehingga ia bertindak seperti itu.

Selanjutnya Khumaini tidak segan menuduh Nabi Muhammad SAW dengan tuduhan yang penuh degan kebohongan dan kepalsuan sebagai berikut:

“Dan telah menjadi kenyataan bahwa jika Nabi Muhammad SAW. Benar menyampaikan perintah mengenai imamah sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT. dan berupaya untuk hal itu niscaya tidak timbul semua perselisihan, pertentangan, peperangan di negara-negara Islam, dan tidak akan timbul dalam pokok agama maupun cabangnya.” (Kasful Asror halaman 55). Di sini  Khumaini dengan tegas menuduh Nabi SAW adalah sumber perpecahan, pebedaan, pertentangan dan peperangan di kalangan umat Islam.

Peserta halaqoh yang terhormat, betapa kejamnya Khumaini dan demikianlah lagu irama orang-orang Syi’ah. Jika Khumaini menuduh Nabi SAW dengan penuh kebohongan maka Said Aqil pun pernah menuduh Nabi SAW dengan penuh kepalsuan. Dengan bukti ucapan Said Aqil bahwa Nabi Muhammad SAW. di dalam meredam kesukuan (qobilah) tidak tuntas. Sungguh ini merupakan penghinaan yang kejam Said Aqil terhadap Nabi Muhammad SAW. yang jelas-jelas bertentangan dengan nash Al-Qur’an:

Artinya:

“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kamu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya, demikain Allah menerangkan ayat-ayatnya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”  (Surat Ali Imron ayat 103).

Di sini jelas bahwa ucapan Sa’id Aqil di atas bertentangan dengan nash Al-Quran yang shorih karenanya ucapan tersebut kufur hukumnya. Hal itu sama dengan pada saatSaid Aqil menvonis Nabi “Kalau itu (Hadist Turmudzi) shohih dan memang 73 golongan terjadi persis jelas Rosulullah salah” (Aula, April 1996, hal. 73). Pantaskah itu diucapkan oleh seorang muslim? Pantaskah ucapan itu dilontarkan oleh orang yang konon kabarnya lulusan Ummul Quro (Mekkah) yang merupakan kota pusat lahirnya Islam pertama kali?

Dan juga firman Allah surat Al-Ahzab ayat 6:

“Nabi itu (sebenarnya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka (orang-orang mukmin)”.

Kemudian surat Al-Ahzab ayat 32:

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidak sama dengan wanita lain”.

Inilah ayat-ayat yang membuktikan kesucian para istri Nabi SAW. Dan satu lagi hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori “pada saat Nabi masuk di kamar Saidah Aisyah, Nabi mengucapkan Assalamu’alaikum ahlal baiti warohmatullah kemudian dijawab Saidah Aisyah Wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh”.

Tuduhan-tuduhan golongan Syi’ah yang keji terhadap para Shahabat Nabi sangatlah bertentangan dengan nash al-Qur’an antara lain:

Surat Ali Imron 191:

“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata “Ya Tuhan kami tidaklah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka”.

Surat As-Sajdah ayat 16:

“Lambung mereka jauh dari tempat mereka berbaring, sedang mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan penuh rasa takut dan penuh harap dan mereka menafaqohkan sebagian rezki mereka yang kami berikan kepada mereka”.

Surat Al-Hadid ayat 10:

“Tidak sama diantara kamu orang-orang yang menafaqohkan hartanya dan berperang sebelum menaklukkan (Makkah) derajat mereka lebih tinggi dari orang yang menafaqohkan harta mereka dan berperang sesudah itu (penaklukan Makkah). Allah menjanjikan masing-masing diri mereka pahala yang baik dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Surat Al-Anfal ayat 74:

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dan memberikan tempat tinggal dan pertolongan (kepada orang-orang yang hijrah) mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia”.

Surat At-taubah ayat 100:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.

Khumaini mengatakan “Sesungguhnya Al-Imam mempunyai kedudukan yang mulia dan derajat yang agung dan kekuasaan yang alamiah di mana semua unsur alam tunduk pada imam dan telah menjadi ketetapan kami, bahwa imam-imam kami itu mempunyai kedudukan pangkat yang tiada dapat dicapai oleh malaikat yang dekat dengan Allah maupun utusan Allah” (Al Hukumatul Islamiyah halaman 52).

Di sini kembali Khumaini menghina Rasulullah SAW. dengan meletakkan derajat Nabi di bawah imam-imam Syi’ah maupun derajat  para malaikat yang dekat dengan Allah SWT. Dan paling tinggi Khumaini meletakkan derajat Nabi SAW. di urutan yang ke empat belas. Sedangkan Arswendo Atmowiloto yang meletakkan Nabi Muhammad SAW. Pada urutan ke sebelas tokoh-tokoh  populer dunia itu saja mengakibatkan tabloitnya dibredel. Apalagi kitab-kitab Khumaini dan tokoh-tokoh Syi’ah lainnya yang sudah jelas menghina Nabi SAW. Oleh karena itu saya menghimbau pemerintah melalui Menteri Agama supaya dengan tegas melarang kitab-kitab Syi’ah yang menyesatkan itu beredar di Indonesia. Meskipun dalam hal ini Gus-Dur tidak sama dengan saya. Sebab dalam acara Bistek 93 (Dialog Buku), Gus-Dur meminta berusaha agar peredaran buku-buku dan kitab-kitab Syi’ah tidak perlu disensor oleh pemerintah. Lebih jauh Gus-Dur dalam dialog tersebut mempersilahkan warga NU untuk masuk Syi’ah, sehingga harian Terbit 15 Februari 1993 membuat judul Gus-Dur menyeberang ke Sy’iah. Innaalillahi wainnaa ilaihi roojiun. Melalui majalah Aula (April 1996, halaman 26) Gus-Dur membantah dengan pertanyaan “Syi’ah mana yang saya kembangkan?” Dan sekarang saya jawab yang dikembangkan oleh Gus-Dur adalah Syi’ah Imamiyah Istna Asyariyah Ja’fariyah (Syi’ah Iran). Inilah sekedar jawaban saya.

Demikian sebagian kepeloporan Gus-Dur dalam mengembangkan Syi’ah di kalangan NU, sehingga wajar bila Gus-Dur dan Said Aqil saya katakan sebagai pelopor pengembangan Syi’ah di akhir abad kedua puluh ini.

III.        BAHAYA SYI’AH II

Kepercayaan Syi’ah Terhadap Imam-imam Mereka yang Melampaui Batas.

Syi’ah Imamiah Istna Asyariyah Ja’fariyah berkepercayaan bahwa imam-imam mereka mengetahui hal-hal ghaib lagi pula maksum. Imam-imam mereka mempunyai derajat lebih tinggi daripada Nabi dan utusan Allah, mereka tidak mati atas kehendak sendiri. Golongan Syi’ah menempat-kan martabat para imam setaraf dengan derajat ketuhanan sebagaimana mereka katakan: bahwa para imam mengetahui hal-hal yang sudah terjadi dan segala yang akan terjadi, mengetahui segala isi surga dan neraka dan tidak ada sesuatu-pun yang samar atas mereka. Kebohongan dan kedustaan atas nama Allah membuat orang yang berakal sehat dan berjiwa bersih, berdiri bulu romanya di saat menukil ucapan mereka. Tetapi peserta halaqoh akan menemukan semuanya itu di dalam buku induk karangan tokoh Syi’ah yang paling mereka percayai. Berikut ini saya akan nukilkan keyakinan dan pendapat-pendapat meraka dari kitab-kitab tokoh Syi’ah agar peserta halaqoh mengetahui secara dengan jelas.

Dari Mufaddol bin Umar dari Abdillah AS, Amirul Mukminin berkata “aku adalah penyalur antara surga dan neraka. Aku adalah Agung antara haq dan batil. Akulah pemilik tongkat Musa dan setempelnya. Dan telah mengakui diriku semua malaikat dan ruh serta Rasul-rasul, sebagaimana mereka melakukan pengakuan itu kepada Nabi Muhammad SAW. Telah dipikulkan amanat kepadaku seperti yang dipikulkan kepadanya, yaitu amanat Tuhan. Dan sesungguhnya Rasulullah pernah dipanggil lalu serta dia diajak bicara dan akupun diajak bicara, sehingga aku mengucapkan sesuai apa yang diucapkannya. Aku telah diberi beberapa pemberian yang belum pernah diberikan kepada siapapun sebelum aku. Aku mengetahui kematian dan bencana serta selirih silsilah keturunan dan kata-kata pemutus, sehingga apa yang terlebih dahulu daripada aku tidak luput dari diriku. Dan tiada sesuatu yang jauh dariku dapat terlepas dari pengetahuanku. Aku memberi kabar gembira dengan izin Allah yang telah menempat-kannya pada diriku dengan ilmu-Nya” (Al Kaafi Fil Usul halaman 196-197, juz 1 cetakan Teheran).

Ia berkata “Sungguh aku benar-benar mengetahui segala yang ada  di langit dan di bumi dan segala yang ada di surga dan neraka dan apa yang terjadi serta sedang dan akan terjadi” (Al Kafi Fil Usul, juz 1, halaman 261, cetakan Teheran).

Ia berkata “Allah Tuhan Yang Maha Barokah dan Maha Tinggi memiliki dua ilmu. Satu ilmu yang ditampakkan kepada Malaikat-Nya, para Nabi-Nya para Rasul-Nya, sesungguhnya kami juga mempunyai dua ilmu yang dikhususkan untuk dzat-Nya. Bila mana ada sesuatu yang terlintas pada Allah, kami pun diberitahu hal tersebut” (Al- Usul Minal Kafi, juz 1 halaman 255).

Dari Abdillah ia berkata “Allah telah menciptakan Ulul Azmi diantara Rasul-rasul-Nya, dan mereka dikaruniai kelebihan ilmu dan kami mewarisi mereka dan kelebihan mereka dan kami dilebihkan di atas ilmu mereka dan diajarkan kepeda Rasulullah SAW. Apa yang mereka tidak ketahui, dan diajarkan kepada kami ilmu Rasulullah dan ilmu utusan-utusan Allah” (Bashoirud Darojad, juz 5 halaman 248 dan Fusul Muhimmah, halaman 156).

Dari Abdullah ia berkata “sesungguhnya dunia ini milik imam dan akhirat pun milik imam. Dia meletakkan di mana ia kehendaki dan memberikannya kepada siapa saja yang dikehenda-ki” (Usul Al-Kaafi juz 1, halaman 450, cetakan Teheran).

Mirza Muhammad Hadi Al-Khurozani mengatakan “Telah bersabda Nabi SAW. Sungguh surga untuk orang yang mencintai Ali sekalipun ia durhaka kepada Rasulullah, neraka diciptakan untuk orang yang membenci Ali walaupun ia taat kepada Rasuluullah” (Risalatul Islam wal Mu’jizat, halaman 276).

Qulaimi mengatakan “Para imam Syi’ah tahu kapan ia mati dan mereka hanya bisa mati atas kehendak sendiri. Meriwayatkan dari Abi Basir dari Ja’far bin Muhammad Al-Baqir bahwa ia berkata seorang yang tidak tahu sesuatu yang ghaib dari durinya sendiri dan tidak tahu kemana sesuatu akan terjadi maka dia bukanlah merupakan bukti kebenaran Allah untuk makhluk-Nya” (Al-Kaafi Fil Usul, jaz 1, halaman 285, cetakan Teheran).

Orang-orang Syi’ah telah melampaui batas dalam memuji dan menyanjung, merangkai khurafat menyalin dusta kebohongan kemudian dialamatkan kepada imam-imam mereka. Bahwa imam-imam mereka berkata “kami telah diciptakan oleh Allah dari cahaya keagungan-Nya dan badan kami, beserta ruh-ruh Syi’ah kami diciptakan dari tanah istimewa di bawah Al-Arsy, adalah jasad-jasad Syi’ah dan para Nabi diciptakan dari tanah yang kurang dari semula, sedang manusia selain Syi’ah telah diciptakan Allah dari tanah untuk menjadi kayu bakar di neraka”. Demikianlah dongeng palsu yang telah dikatakan oleh mereka oleh tokoh utama mereka Al-Kulaini dalam kitabnya Al-Kaafi yang konon kabarnya telah diberi ijazah imam mereka yang ghaib dan direstui dengan ucapan “Sungguh cukup kitab Syi’ah kami ini” dan karena syahadah yang ghaib itulah kitab tersebut dinamakan Al-Kaafi (Al-Kaafi, juz 1, halaman 389-390).

Demikianlah i’tikad Syi’ah terhadap imamnya yang terhimpun dalam kitab-kitab mereka yang merupakan kumpulan literatur yang sah dan yang utama, benar dan yang baik. Apakah ada kemusyrikan dan kekafiran yang lebih berat daripada kepalsuan dan kebohongan keyakinan semacam itu. Patutkah orang yang percaya pada dongeng-dongeng tersebut dikategorikan sebagai muslim dan ahlul kiblat? Sungguh Allah maha suci dari semua klaim dan tuduhan itu.

Allah SWT. Menegaskan dalam kitab suci-Nya bahwa tidak ada seorangpun yang mengetahui barang ghaib walaupun ia seorang Rasul, berbeda dengan Syi’ah yang mengatakan bahwa para imam mereka mengetahui hal-hal ghaib.

“Tidak ada siapapun di langit dan di bumi yang mengetahui hal ghaib kecuali Allah”(Surat Annaml ayat 65).

“Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahui kecuali Dia sendiri” ( Surat Al-An’am ayat : 59).

“(Dia adalah Tuhan) yang mengatahui barang ghaib, maka dia tidak memperlihatkan pada seorangpun tentang yang ghaib itu kecuali pada siapa yang Dia kehendaki dari rasul” (surat Jin, ayat 26-27).

“Katakanlah Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui yang ghaib dan tidak pula aku mengatakanmu bahwa aku adalah malaikat” (Surat Al-An’am, ayat 50).

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya Aku mengetahui yang ghaib, tentulah Aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan Aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (Surat Al-A’rof, ayat 188).

“Sesungguhnya hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat dan Dialah yang menurunkan dan mengatahui apa yang ada di rahim dan tiada seorang pun yang bisa mengetahui (dengan pasti) apa yang diusahakannya besok dan tiada seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Surat Luqman, ayat 34).

“Dan sesungguhnya benar-benar Kamilah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami pulalah yang mewarisi” (Surat Al-Hijr, ayat 23).

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah  sebagai ketetapan yang tertentu waktunya” (Surat Ali Imron, ayat 145).

Demikianlah aqidah Ahlussunah wal Jamaah bersih lagi suci bukan seperti aqidah Syi’ah yang penuh noda dan bergelimang dosa.

IV.          BAHAYA SYI’AH III

Keyakinan Golongan Syi’ah tentang Ketidak Aslian Al-Quran.

Sebagaimana termuat di dalam kitab-kitab induk mereka sebagai berikut:

Abu Abdillah berkata “Al-Quran yang dibawa kepada Muhammad SAW. Adalah 17000 ayat (Al-Kaafi Fil Usul juz 2 halaman 634 cetakan Teheran Iran).

Dari padanya pula pada pihak kami ada mushaf Fatimah as. Apakah mereka tahu mushaf Fatimah itu isinya tiga kali lipat dibanding dengan Al-Quran kalian ini (Al-Kaafi Fil Usul juz 1 halaman 407 cetakan Teheran Iran). Demi Allah tidak satu pun huruf dari Al-Quran tersebut terdapat dalam Qur’an kalian.

Dari Jabir bin Abu Ja’far sa. Ia berkata “Saya bertanya mengapa Ali bin Abi Tholib dinamakan Amirul Mukminin. Jawabnya Allah yang menyamakan demikian”. Begitulah yang telah diturunkan di dalam kitabnya yaitu firman-Nya

وإذ أخَذ منْ بني آدمَ منْ ظهُورهِم ذريتهم وأشهدهم على أنفسِهم ألستُ بربّكم وإنّ محمّدًا رَسُولي وإنّ عَلِيًّا أميْر المؤمنِين. (الكافي كتاب الحجة ص 437 / ج 1)

Diriwayatkan pula ia bekata Jibril turun membawa ayat ini kepada    Muhammad dengan bunyi sebagai berikut:

وإنْ كنتم فى رَيبٍ ممّا نزّلنا عَلى عبْدِنا فى عَلِيّ فأتوا بسُورة مِنْ مِثله (الكافي كتاب الحجة ص 417 / ج 1).

Dari Abi Bashir dari Abi Abdillah sa. Tentang fiman Allah yang berbunyi:

ومَنْ يطع الله ورسُوله في ولاية عَليّ والأئمّة بعدها فقَدْ فاز فَوزًا عَظيْمًا (الكافى كتاب الحجة ص 414 /ج1)

Inilah keyakinan Syi’ah tehadap Al-Quran, satu keyakinan kafir lagi keluar dari Islam laksana keluarnya anak panah dari busurnya. Seklumit dari yang banyak ini bisa saudara temukan di kitab-kitab induk mereka yang terkenal yaitu Al-Kaafi karya Alkulaini, tafsir Al-Qumi, Al-Ijtihad karya Thibrisi, Bhashoirud Darojat karya Shafar, Hayatul Qulub karya Majlisi, tafsir Al-Burhan karya Al-Bahroni, tafsir Assofi karya Muhsin Al-Kashi, Fashlul Khitab Fi Istbat Tahrifi Kitabi Robbil Arbab karya Mirza Taqiyyunuri Thibrizi, Al-Anwar An-Nu’maniyah karya Ni’matullah Al-Jazairi, Kasful Asror karya Khumaini dan lain sebagainya. Tidak satu-pun kitab dari kitab-kitab induk Syi’ah yang menjadi pegangan mereka terlepas dari keyakinan yang merupakan identitas mereka. Mereka kaitkan keyakinan semacam itu kepada para imam mereka yang ma’sum, anggapan yang penuh kepalsuan dan penuh kebohongan serta mengada-ada atas nama Allah dan auliya’-Nya. Para imam tersebut sebenarnya bersih dari kebohongan dan tipu daya yang mereka lakukan.

Peserta halaqoh yang terhormat, sesungguhnya keaslian Al-Quran tidak hanya sekedar impian seluruh umat Islam menyatakan bahwa Al-Quran yang beredar adalah sesuai dengan Al-Quran ketika diturunkan baik huruf, kalimat, titik serta harokat tidak yang dibuang atau diubah dari susunan aslinya. Dalil-dalil yang menunjukkan terjaganya Al-Quran dari segala bentuk kepalsuan tidak hanya bgerupa dalil naqli tetapi dibuktikan juga dengan memakai dalil aqli. Bahkan secara rasional kedua dalil itu tidak mungkin diragukan kebenarannya.

Andaikan al-Quran yang terpelihara itu hanya berada di tangan imam maka apa guna pemeliharaannya, sebab dengan meninggalnya seorang imam maka kelestarian dan kemurnian Al-Quran tentu tidak dapat dipertahankan lagi. Argumen seperti itu tidak bisa dijadikan pegangan bagi sebuah aqidah. Begitu pula untuk kepentingan ibadah dan mua’malah serta egar-hukum lainnya. Al-Quran merupakan dasar ajaran Islam dan landasan berpijak, apabila Al-Quran telah mengalami pengubahan atau pembuangan sebagian ayat-ayatnya maka Islam sudah kehilangan asas yang pokok. Dan semua ummat Islam tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang dilakukan. Hal tersebut lantaran mereka telah kehilangan pegangan yang menjadi pegangan hidupnya dan praktis syariat Islam pun menjadi terhambat karena tidak adanya dustur atau undang-undang sehingga Al-Quran sudah kehilangan fungsinya bagi umat manusia setelah Nabi Muhammad SAW. Wafat karena Al-Quran yang asli selalu dalam tangan imam Mahdi yang sampai sekarang belum dapat diketahui kapan datangnya.

V. SANKSI HUKUM

Barangsiapa mencaci-maki dan memberi aib kepada Nabi atau memberi nilai kurang kepada pribadi Nabi, nasab Nabi, agama Nabi, atau perangai Nabi dari perangai-perangai Nabi atau orang yang menyindir kepada Nabi atau yang menyerupakan kepada Nabi dengan sesuatu dengan maksud mencerca kepada Nabi atau menghina Nabi atau mengecilkan keberadaan Nabi atau merendahkan keberadaan Nabi maka orang tersebut sama mencaci maki dan hukuman bagi orang yang mencaci maki Nabi adalah dibunuh. Demikian menurut ijma’ ulama sejak zaman shahabat sampai seterusnya. Demikian keterangan Qodhi Iyadh dalam kitabnya Assifa’.

Barangsiapa meremehklan Al-Quran dan mushaf atau sesuatu dari Al-Quran atau mencaci maki Al-Quran atau mushaf atau menentangnya atau menentang satu huruf atau satu ayat dari Al-Quran atau mendustakan dengan sesuatu yang sudah jelas hukumnya atau pemberitaan dari Al-Quran atau yang menetapkan sesuatu yang tidak ditetapkan oleh Al-Quran atau orang yang tidak menetapkan sesuatiu yang tidak ditetapkan Al-Quran, yang semua itu dilakukan atas dasar pengetahuannya atau siapa saja yang ragu akan sesuatu dari Al-Quran maka menurut ijma’ ulama hukumnya adalah orang kafir.

Siapa yang mencaci maki keluarga Nabi, istri Nabi, shahabat Nabi dan menjatuhkan martabat mereka hukumnya adalah haram dan dilaknat.

VI. KESIMPULAN

Bahwa Syi’ah Rofidhoh Imamiyyah Itsna Asy’ariyah Ja’fariyah adalah satu kelompok Islam yang menggunakan Islam sebagai perisai dengan segala daya upaya untuk menghancurkan Islam secara total.

Ajaran Syi’ah tentang imamiyah sangat membahayakan karena berkaitan dengan kepemimpinan negara.

NU dengan aqidah Ahlussunah wal Jamaah harus bersih dari orang yang pola pemikirannya sama atau menyerupai pola pemikiran Syi’ah yang ekstrim.

Pemikiran-pemikiran prinsip yang telah disampaikan oleh Gus-Dur dan Said Aqil Siradj dalam beberapa hal ada persamaan dengan Syi’ah.

Pendekatan-pendekatan antara Syi’ah dan Ahlussunah adalah penipuan yang pada hakikatnya akan menjerumuskan orang pada lingkaran Syi’ah.

VII. HIMBAUAN

Kepada seluruh ulama Ahlussunah wal Jamaah, generasi muda NU, pemerintah, ABRI, dan umat Islam Indonesia pada umumnya untuk mewaspadai gerakan Syi’ah yang jelas-jelas menyimpang dari ajaran Islam.

Demikianlah peserta halaqoh yang terhormat pokok-pokok permasalahannya yang perlu kita pecahkan bersama dalam menyiasati bahaya Syi’ah di kalangan Nahdlatul Ulama di penghujung abad ke dua puluh ini.

Lasem, 1 Shafar 1417 H

17   Juni 1996 M

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Wahdah

Lasem Rembang Jawa Tengah

KH. Abdul Hamid Baidlowi

(Disadur dari: JUDUL BUKU “Kritik terhadap Gus Dur dan Sa’id Aqil

& Menyiasati Bahaya Syi’ah di Kalangan Nahdlatul Ulama di Penghujung Abad ini”

PENULIS: KH. Abdul Hamid Baidlowi

PENERBIT : Pondok Pesantren Al-Wahdah Sumber Girang Lasem Rembang Jawa Tengah)

Sumber: ribathdeha.files.wordpress.com/…/format-buku-kritik-terhadap-gus-d.(nahimunkar/muslimemo.com)

Tentang Dr. (Candt.) Jamaluddin Mahasari, S.ST, M.H.

Jangan merasa hidup jika belum memberi arti dan manfaat untuk orang lain... Jangan merasa hebat jika belum menjadikan dirinya manfaat untuk kebanyakan orang...
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Pertanahan Syariah Islam dan tag , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Tulisan Menarik Bagi Yang Ingin Mengetahu tentang Syi’ah (Wajib Baca) …!!!

  1. ismitbatam@yahoo.com berkata:

    terimakasih,pencerahan sekali…..syiah inilah yg sangat bahaya…ia merusak atas nama islam…kalau yg kafir sdh jelas tdk islamnya…

  2. Ini yang nulis bukan muslim ya…naudzubillah

    Coba lihat sejarah deh,..dankitab ahlusunnah yang shahih
    Tetntang sepeninggalnya baginda rasulillah saw
    Ap yang mereka lakukan (pemimpin dimasa itu) terhadap puteri tercintanya…lalu ceritakan kepada saya tentang peristiwa di ghadir kum yang pada waktu itu di saksikan oleh ratusan ribu kaum muslim dan sahabat…ayo jelaskan

    te

  3. Pantas saja ulama sunni tidak pernah menang berdebat dengan syiah
    Mereka selalu diam kalau disinggung dengan masalah sejarah yang sebenarnya ,..

  4. adhien berkata:

    kita sembelih aja syiah yang gak mau tobat kayak pki dulu.. apa yang pantas buat penghina istri nabi selain di bunuh.. coba kalau istrimu yang di hina orang .. padahal kata dia juga pakai alquran.. nabi alquran hadist satu kesatuan lo kok istrinya yang bawah alquran di hina.. manusia macam apa syiah itu.. di bunuh kalau gak mau tobat itu jawabanya…

  5. adhien berkata:

    kita sembelih aja kayak pki dulu syiah yang gak mau tobat.. emang syiah punya kitab apa sehingga derajat imamnya bisa lebih tinggi dari nabi yang bawah alquran..hanya orang super bodoh yang ikut ajaran sesat syiah.. setan semua imamnya syiah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s